Tags

,

Setelah Pilkada DKI Jakarta 2017 usai dan juga Ahok kalah dalam hasil Pilkada maka kini saatnya membuat tulisan ini dari pandangan sebagai seorang awam.
Sebelum Ahok, sebenarnya sudah ada Gubernur kristiani dalam propinsi yang penduduknya mayoritas non kristiani. Seperti di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Tetapi suasananya relatif tenang, adhem relatif tidak terjadi gejolak hiruk pikuk kegaduhan seperti tatkala Ahok menjadi Gubernur DKI dan ikut kembali menjadi calon gubernur petahana dalam Pilkada DKI 2017.
Hal ini bisa dipahami karena DKI Jakarta sebagai Ibukota negara Indonesia tercinta merupakan miniatur Indonesia sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, industri dan banyak aspek kehidupan lainnya. Barangkali lebih dari 70% peredaran uang ada di Jakarta. Banyak elite bangsa (termasuk konglomerat) yang menentukan kehidupan berbangsa berada di Jakarta. Kendali kehidupan bangsa Indonesia berada di Jakarta.
Menjadi wajar, jika kemudian Pilkada di DKI Jakarta tidak hanya menjadi pesta demokrasi milik masyarakat Jakarta, tetapi seolah telah menjadi pesta demokrasi bagi seluruh komponen bangsa. Juga menjadi Tarik-tarikan kepentingan. Dan apalagi ketika Ahok yang minoritas dari sisi etnis dan agamanya menjadi gubernur dan ikut mencalokan kembali dalam Pilkada DKI Jakarta menjadi ramai diperbincangkan, diperdebatkan, sehingga muncul gejolak, kegaduhan dan pro kontra, tidak hanya antara masyarakat Jakarta namun juga bangsa Indonesia menjadi terbelah sangat nyata karenanya. Di tambah lagi, karakter Ahok yang apa adanya. Ceplas ceplos. Tidak ada kompromi dan negosiasi. Dianggap arogan.
Ahok tidak peduli dengan respon negatif atas gaya dan karakternya. Ahok hanya peduli agar aparat dan pemerintahan DKI jujur, transparan dan fokus dalam pelayanan kepada masyarakat. Ahok berusaha dan berjuang agar aparat dan pemerintahan DKI Jakarta tidak ada korupsi, pungli dan manipulasi. Dan kenyataannya menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta merasakan kepuasan atas kinerja Ahok dan pemerintah DKI Jakarta. Dalam berbagai survey menunjukkan bahwa masyarakat DKI Jakarta mengatakan puas dengan kinerja Ahok dan pemerintahan DKI Jakarta (berkisaran 70%).
Tetapi sikap dan karakter Ahok yang ceplas ceplos, tanpa kompromi dan negosiasi. Membuat semakin banyak orang atau kelompok (termasuk kalangan elite yang merasa dirugikan) menjadi tidak suka, marah, benci dan dendam kepada Ahok. Sehingga mereka berusaha dengan berbagai cari menghalangi Ahok dapat berhasil terpilih sebagai Gubernur. Termasuk menunggu dan mencari celah Ahok membuat kesalahan.
DI stuatu masa, celah itu benar-benar muncul. Pucuk dicinta ulam tiba. Ada tindakan Ahok yang bisa dijadikan kesempatan untuk menjatuhkan Ahok, Ringkas cerita, hasil Pilkada DKI Jakarta menunjukkan Ahok kalah dan gagal untuk mempertahankan jabatannya sebagai Gubernur. Ditambah lagi Ahok menjadi tersangka dan menunggu vonis pengadilan. Sudah jatuh ketimpa tangga pula. Ahok sudah mendapatkan “hukuman” atas “kesalahannya”.
Tidak ada insan sempurna. Sebaik-baiknya insan, sehebat-hebatnya insan, pasti memiliki kekurangan, kelemahan dan pernah melakukan kesalahan. Di sisi lain, seburuk-buruknya insan, sejahat-jahatnya insan, pasti memiliki atau pernah melakukan kebaikan. Demikian pula Ahok sebagai manusia. Ada kekurangan dan pernah melakukan kesalahan tetapi juga pernah melakukan kebaikan. Keduanya tidak bisa saling meniadakan atau menghapuskan.
Ahok sudah mendapatkan balasan atau hukuman atas kesalahannya. Sebagai rasa empati dan simpati, maka kini saatnya tidak hanya melihat kekurangan dan kesalahan Ahok tetapi juga melihat hal positif atau kebaikan yang telah dilakukan Ahok. Sehingga ada keseimbangan.
Mungkin Ahok sejak kecil telah terdidik bahwa sekalipun Ahok sebagai minoritas tetapi bagi Ahok tetaplah sebagai warga negara Indonesia yang memiliki kedudukan, hak, kesempatan dan kewajiban serta tanggung jawab yang sama. Maka Ahok tidak ingin merasa minder. Disisi lain, Ahok terdidik bahwa kejujuran dan keadilan itu hal yang penting dalam segenap aspek kehidupan berbangsa. Ahok memposisikan tndakan dan hidupnya bersikap setara dengan warga negara lainnya, serta berusaha menjaga integritas, kejujuran dan keadilan untuk melayani masyarakat Dan Ahok telah berusaha melakukannya dengan berbagai program pelayanan di DKI Jakarta.
Hal yang lain yang yang bisa dijadikan acuan, di saat menjadi tersangka, Ahok tidak melakukan protes dengan melakukan pra peradilan. Ahok tidak menghindar dan mencari alasan, tetapi mengikuti jalannya persidangan.
Kemudian di saat kalah dan gagal terpilih kembali sebagai Gubernur, pastilah Ahok sedih dan kecewa, tetapi Ahok tetap bisa tertawa, tidak melakukan gugatan di MK, dan Ahok langsung mengucapkan selamat kepada pemenang.
Ahok menjadi pribadi fenomenal dan kontroversal. Kekurangan dan kesalahannya membuat banyak kebencian dan kemarahan dan Ahok telah menerima konsekuensinya dengan kegagalan dalam Pilkada dan menerima tuntutan hukum.Tetapi dibalik itu, Ahok tidak hanya memiliki kekurangan dan kesalahan tetapi Ahok juga memiliki kelebihan yang membuat banyak masyarakat yang puas dengan kinerjanya (walau kemudian tidak memilih Ahok dalam Pilkada) dan ketika Ahok gagal dalam Pilkada justru bermunculan banyak warga Jakarta yang seagama, tidak seagama, tua muda, lelaki perempuan yang datang untuk bertemu Ahok dengan tangisan dan membawa bunga tanda cinta nan tulus dari hati kepada Ahok. Tidak itu saja, mereka tidak sungkan memeluk Ahok dan menggandheng tangan Ahok dengan cinta. Menurut informasi hanya Ali Sadikin dan Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta yang menerima ekspresi cinta sedemikian dari berbagai rakyat Jakarta.
Demikianlah Ahok yang fenomenal dan kontroversal. Ahok telah menerima konsekuensi atas segenap kesalahannya,. Tetapi kesalahan Ahok bukan berarti kemudian dapat menghapuskan kebaikan yang telah diperbuat Ahok. Sedemikian secara prbadi penulis, tulisan ini tidak akan terwujud jika Ahok menang dalam Pilkada. Tulisan ini muncul hanya ketka Ahok kalah dan gagal dalam Pilkada sebagai ungkapan empati dan simpati atas segenap kebaikan Ahok dan demi keseimbangan.
Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, juga Maha Berkeadilan. yang kan memberi balasan berkeadilan atas kesalahan maupun kebaikan setiap orang juga kan memberikan pengampunan atas kesalahan insani.
Kekalahan dan kegagalan Ahok dalam Pilkada DKI semoga juga ada hikmahnya, untuk membuat suasana bangsa menjadi sejuk damai kembali. Kekalahan Ahok telah banyak membawa kepositifan dan menyelamatkan keadaan dan banyak insan.
Kekalahan Pilkada DKI dan peristiwa hukum yang dialami Ahok, kiranya dapat menjadi perenungan dan kekuatan bagi Ahok untuk dapat naik tingkat menjadi insan yang semakin berkualitas, juga dapat menjadi perenungan bagi diri prbadi penulis, juga menjadi perenungan bagi kalangan insan kristiani (karena peristiwa kekalahan Pilkada hampir bersamaan dengan peringatan peristiwa Paskah) juga dapat menjadi perenungan bagi segenap komponen bangsa.
Salam empati untuk Ahok

https://news.detik.com/berita/d-3480252/bunga-dan-tangis-warga-sambut-ahok-di-balai-kota

 

Advertisements