Ketika manusia tak setia dan tak taat
atas perintahNya
kemudian mengkhianatiNya,
namun mengingat hakikat kasih dalam diriNya,
Engkau tiada tega
melihat beban berat hidup insani.
Engkau tahu manusia tak kan sanggup menahan beban dosanya.
Hanya kan menuju jurang maut nan dalam.

Melihat itu,
Engkau tak ingin menunda untuk
segera datang ke dunia,
menemui,
mendampingi,
menemani,
bahkan mengambil beban berat hidup insani,
derita, duka perih manusia,
akibat salah dan dosa yang dilakukan manusia sendiri.

Betapa berat yang harus Engkau tanggung
di saat sebagai manusia sempurna.
Engkau yang Maha Suci dan Sempurna
pun merasakan betapa menekan kuat kuasa maut itu.
PeluhMu menetes bersama titik-titik merah darah,
dan ketika dalam tubuhMu sempurna penuh perih luka,
Engkau pun berseru kepada Bapa:
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Engkau rela dan setia sampai akhirnya,
karena harus sampai akhir,
kematianMu, kebangkitanMu, perjalananMu kembali ke Surga
membuat jalan kesempatan untuk manusia,
bisa datang kepadaNya yang Maha Suci.

Selayaknya setian insan mengucap syukur
hanya karena kasihMu,
berkenan datang ke dunia menemani manusia
yang hina dan berdosa,
bahkan menggantikan
atas beban dosa-dosa manusia,
sehingga
manusia punya harap lagi atas surgaNya
dan hidup bersamaNya kembali.

Advertisements