Bila direnungkan,
seharusnya manusia selalu beri syukur kepadaNya,
karena sejak semula dalam kasihNya,
Tuhan telah menciptakan insani segambar dan serupa denganNya.
Tuhan menciptakan alam semesta bumi dengan segala isinya,
pohon-pohon, buah, hewan di laut, di udara,
bahkan Taman Eden nan indah.
Semua lengkap sempurna
tiada yang kurang
untuk kebahagiaan hidup insani nan abadi.
Semuanya untuk insan yang dicintaNya.
Dari antara indahnya segenap ciptaan Tuhan,
Tuhan juga menumbuhkan pohon pengetahuan
tentang yang baik dan yang jahat.
Hanya buah dari pohon inilah yang tak boleh dimakan
untuk mengetahui seberapa jauh rasa syukur insani.

Larangan Tuhan nampak sederhana
dan mudah dilakukan untuk menyanggupinya.
Toh hanya buah dari satu pohon saja,
masih ada beribu buah lain yang lezat dan ranum.
Perintah yang ringan,
demikian kepercayaan diri insani
yakin dapat mentaati perintahNya.
Namun entah karena apa,
lama-lama Insan ciptaanNya jadi penasaran dan sering melirik ke buah itu
dan kemudian nampak hasrat keinginan untuk memetik
dan akhirnya tak mampu menahan hasrat hati insani,
dipetik jua buah itu dan kemudian dimakannya.

Tiada terkira
hanya karena satu buah saja,
hanya sekali memakannya,
tiba-tiba semuanya berubah.

Alam semesta beribu bintang,
bumi laut nan indah permai pun berubah menjadi bencana.
Singa dan harimau yang semula tunduk,
berubah beringas dan ingin melahap insani.
Pohon nan rimbun menjadi kering menguning.
Tanah nan subur menjadi gersang.
Bumi dan Taman Eden yang indah tenteram damai dan abadi,
saat ini tinggal kenangan.

Indahnya kehidupan dalam damai tenteram bahagia,
dalam kesetiaan dan kesatuan Illahi,
berubah mendera kehidupan.
Kesulitan, kesusahan, letih lelah,
kemarahan, kebencian, kedengkian,
intrik, fitnah, khianat
mendominasi dan menguasai.

Hidup jadi tiada yang mudah,
terasa sangat berbeban berat.

Advertisements